Senin, 28 September 2009

Cewek Bogor - abg cewek: Cewek Bogor

Kami tinggal di Bogor, suatu daerah dataran tinggi yang ada di Jawa Barat. Bila malam tiba, udara cepat berubah dari panas menjadi dingin. Itu sebabnya pada rumah kami dibangun tungku api. Kami memang menyenangi rumah model Eropa. Letak rumah kami sangat strategis. Di halaman belakang rumah, kami bisa memandang lereng pegunungan. Di bawah lereng tampak rumah-rumah kecil yang bila malam hari terlihat memancarkan cahaya berkelap-kelip. Untuk menuju Jakarta juga tidak begitu sulit karena jarak rumah kami ke jalan tol hanya membutuhkan waktu beberapa puluh menit saja.

Seringkali kami melakukan hubungan seks di depan tungku api itu. Waktu favorit kami adalah menjelang pagi saat kami baru bangun tidur sebab di waktu itu nafsu seks kami bisa sangat menggebu-gebu.

Mula-mula cerita ini, suamiku menambahkan beberapa kayu bakar dan menyalakan lilin di sekitar kami, sementara itu aku menyiapkan minuman ringan yang biasanya berupa sedikit anggur. Setelah itu kami berbincang-bincang sejenak. Tak lama kemudian suamiku mulai mencumbu diriku. Dia
menyingkap dasterku, lalu menggosok-gosokkan telapak tangannya pada pahaku bagian dalam.
Sekitar tiga puluh detik kemudian aku merasakan kemaluanku lembab. Aku mulai terangsang.
Dijamahnya buah dadaku perlahan-lahan seakan takut pecah. Kemudian dengan perlahan pula
ia mengurutnya berputar. Nikmat sekali. Aku memejamkan mata dan tiba-tiba saja bibirnya telah melumat seluruh bibirku. Kubuka mulut ini lalu lidahku kudorongkan ke dalam rongga mulutnya. Ia memelukku erat sekali. Dadanya yang bidang menekan buah dadaku hingga aku terasa hampir tak bisa bernafas.
Aku bisa mendengar nafasnya mulai memburu. Dengan sangat bernafsu ia melucuti seluruh
pakaianku sampai aku telanjang bulat. Aku juga membalas hal ini dengan membuka piyamanya.
Suamiku tampak seksi bila hanya tinggal mengenakan celana (Malaysia = seluar) dalam. Jariku
kurogohkan ke dalam. Di situ aku menemukan benda besar yang sudah sangat keras. Kepala
penis (zakar) itu kuusap-usap dan tanganku kugerakkan maju mundur. Ia menggeliat bila aku
melakukan hal seperti ini. Mungkin nikmat baginya.

Cukup lama kami melakukan hal seperti ini hingga pada suatu saat ia merebahkan tubuhku.
Aku pasrah saja. Sekarang tubuhku menjadi barang mainan untuknya. Ia duduk di antara
selangkanganku yang terbuka lebar. Kemudian ia membungkukkan tubuhnya lalu menjilati daging kecil yang ada di kemaluanku. Oh, nikmat sekali saat lidahnya mempermainkan clitorisku. Aku memejamkan mata. Seringkali aku meraih bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu agar aku dapat lebih menikmati perlakuannya.

Sekitar lima menit kemudian jari-jarinya menggantikan tugas lidahnya. Aku juga merasakan
satu atau dua buah jari masuk ke dalam lubang kemaluanku. Jari itu bergerak-gerak menggosok
dinding vagina sementara jari yang lain mengusap-usap clitoris yang semakin membesar. Semakin lama usapan jari pada clitoris ini semakin membuatku mengerang. Kenikmatannya menjalar ke seluruh tubuh. Aku tidak bisa melukiskan bagaimana nikmatnya clitoris bila digosok. Aku mengerang karena tidak kuat menahan nikmat ini.Sekitar lima menit kemudian kenikmatan itu hampir mencapai puncaknya. Pinggulku kegoyang-goyang karena setiap sentuhan pada clitoris ini bagaikan tegangan listrik yang menjalar ke setiap ujung syarafku. Aku merintih sekeras-kerasnya.

Tapi untunglah mukaku sudah kututup dengan bantal hingga teriakanku teredam. Selang beberapa saat kemudian aku merasakan clitoris ini hendak “meledak”. Inilah puncak kenikmatanku. Aku secara reflek mencoba merapatkan kedua belah pahaku. Tapi karena di antara selangkanganku ada tubuhnya, maka aku tidak bisa melakukannya. Tubuhku mengejang. Darah terasa berdesir dengan kuat di seluruh tubuhku. Aku menjerit sekuat-kuatnya. Di saat aku menikmati orgasme ini tiba-tiba aku merasakan cairan sangat panas menerpa clitorisku. Rupanya suamiku meneteskan lilin ke atas clitoris dan mulut vaginaku. Kadang-kadang tetesan lilin itu juga ia tumpahkan ke atas puting buah dadaku. Sakit sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa nikmat dan sakit melebur menjadi satu. Orgasmeku berlangsung sekitar satu atau bahkan sampai tiga menit. Saat orgasmeku mulai menurun, ia memeluk tubuhku, membelai rambutku, lalu menciumi seluruh mukaku sambil berkata, “I love you.”
Ia membiarkan moment terindah ini untukku. Sekitar lima menit ia biarkan aku menenangkan
tubuhku. Seluruh urat dan persendian terasa sangat lemah. Aku merasa damai sekali berada di
pelukannya. Mukaku ku benamkan di dadanya yang bidang.

Setelah keadaan mulai kembali seperti semula, kini giliranku untuk memberikan kenikmatan
untuknya. Aku beranjak bangun dan dia merebahkan tubuhnya hingga terlentang. Kemudian sama seperti tadi, aku berada di antara kedua pahanya. Pertama kali aku menjilati batang penisnya dari ujung sampai pangkal. Penis milik suamiku panjangnya kira-kira satu jengkal. Ujung ibu jari tepat menyentuh jari tengahku bila aku menggenggamnya. Bulu-bulu keriting hanya tumbuh di sekitar pangkal penis, antara penis dan pusar, dan sedikit pada bagian kantong testis.

Setelah menjilati permukaan penisnya yang licin, aku memasukkan seluruh testis beserta
kantongnya ke dalam mulutku. Hampir saja tidak muat bila aku tidak memaksanya. Bila telah
masuk seluruhnya, aku menguyahnya menggunakan lidah dan langit-langit mulut. Dia pasti
mendesah bila aku melakukan hal ini. Kadang-kadang satu atau dua bulu rambutnya rontok dan
menempel pada rongga mulutku. Aku tidak merasa jijik, malah senang melakukannya.
Setelah itu kukeluarkan kantong tertis itu dari mulutku. Kumasukkan kepala penis itu ke dalam
mulutku dan kutekan kepala ini hingga kepala penisnya menyentuh tenggorokkanku. Dengan
perlahan kugerakkan mulut ini maju mundur. Aku harus menjaga agar penisnya tidak terluka
karena tergores gigiku. Sekitar lima menit lamanya aku menghisap-hisap kemaluannya sampai dia memberi sebuah isyarat agar aku menghentikan oral seks ini.

Aku kemudian berdiri lalu duduk tepat di atas penisnya yang tegak berdiri. Kepegang penis itu
lalu kuarahkan kepalanya hingga menempel di ujung mulut vagina. Dengan satu dorongan, penis itu telah menusuk vaginaku. Perlahan-lahan aku menggerakkan tubuhku naik turun. Sedikit pedih karena vaginaku belum mengeluarkan banyak cairan. Tapi setelah aku mulai terangsang lagi dan vaginaku mengeluarkan cairan, rasa pedih itu berubah menjadi nikmat. Inilah posisi coitus yang paling aku senangi. Dengan tubuh di atas, aku bisa mengatur tempo permainan. Bila aku berada di bawah, aku sedikit menderita karena seringkali tubuhnya menindih badanku hingga aku tidak bisa bernafas.

Aku terus menggerakkan tubuhku naik turun. Nikmat sekali saat dinding vaginaku bergesekan
dengan penisnya. Makin lama aku menjadi makin bernafsu. Gerakanku semakin cepat.
Kadangkala aku bisa mendapatkan orgasme bila suamiku mampu bertahan lama. Tapi seringkali dia menyuruhku berbaring lalu dia yang berada di atas. Dengan sangat kasar dia menusuk-nusuk vaginaku. Gerakannya cepat sekali hingga dinding vaginaku terasa sangat pedih dan buah dadaku tergoncang-goncang. Aku menjerit kesakitan tapi tidak tega untuk menolak perlakuannya. Bagaimanapun juga dia telah memberikan kenikmatan padaku. Jadi biarlah dia memperoleh kenikmatan dengan caranya sendiri.
Aku lihat dia meringis. Aku tidak tahu apakah dia merasakan nikmat atau malah pedih seperti
yang aku rasakan. Bila aku tidak kuat, aku mengambil bantal lalu menutup mukaku dengan bantal itu. Bila sudah demikian, aku menjerit sekuat-kuatnya atau menggigit bantal. Untunglah gerakan yang kasar dan sangat cepat itu tidak berlangsung lama. Dia berkata bahwa ia akan segera “keluar” sambil menghitung satu sampai tiga. Pada hitungan ketiga dia menjerit tertahan. Aku merasakan cairan hangat menyemprot di dalam rongga kemaluanku. Aku memeluk tubuhnya erat-erat.

Nafasnya jelas sekali terdengar terengah-engah. Aku mengusap-usap punggung dan
kepalanya sambil memohon agar penis itu jangan dicabut. Aku biarkan dia terkulai lemas di atas
tubuhku. Kadangkala bila terlalu lama ia tertidur pulas. Aku menikmati moment ini walau sulit
bernafas. Bila telah puas, aku merebahkan tubuh suamiku ke samping. Penisnya yang mengecil itu segera tercabut dari vaginaku. Aku bangkit berdiri, menuju kamar mandi lalu aku mandi dengan air hangat. Spermanya kadang masih menetes keluar dari lubang vaginaku.
Setelah mandi, aku menyiapkan kopi karena matahari telah terbit. Aku duduk di sampingnya
menunggu ia terbangun dari tidurnya sambil mengenang kembali peristiwa yang terhebat yang
pernah aku alami malam ini.